Ternyata 6 tahun lalu para Ilmuwan sudah Mempelajari tentang Potensi Tsunami Selat Sunda namun banyak yang meremehkan!

Posted on
Loading...

Peristiwa tsunami Selat Sunda diluar perkiraan orang banyak. Tidak hanya pemerintah, warga sekitar pun tidak percaya bencana yang terjadi 22 Desember 2018 lalu merenggut ratusan nyawa. Tapi, ilmu pengetahuan terkadang sudah mempunyai jawaban jauh hari sebelum bencana mematikan ini tiba.

Mereka yang mempunyai jawaban terkadang tidak didengarkan, bahkan tidak jarang pula diremehkan pada saat itu. Ironisnya, apa yang terjadi pada minggu lalu sudah diprediksi enam tahun silam.

Loading...

Dilansir dari volcanodiscovery.com, pada Januari 2012 Vulcanologist Dr Thomas Giachetti dari Universitas Oregon menerbitkan makalah tentang keruntuhan sayap dan potensi tsunami di Pulau Anak Krakatau. Dampak buruk serta peringatan akan bencana yang diprediksi akan terjadi juga disampaikan.

Makalah tersebut berjudul “Tsunami hazard related to a flank collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia” (Bahaya tsunami terkait dengan runtuhnya panggul Gunung Api Anak Krakatau, Selat Sunda, Indonesia). Dalam makalah tadi menyebutkan, jika menstimulasi secara numerik, adanya ketidakstabilan di sebagian besar bagian Gunung Anak Krakatau pada arah barat daya. Parahnya lagi, ketidakstabilan tadi menyebabkan adanya pembentukan dan penyebaran tsunami.

Seperti diketahui, letusan pada 1883 membuat cekungan besar pada Gunung Krakatau. Jika melihat lebih dalam, kondisi terkini Gunung Anak Krakatau berada diposisi rentan. Ia berdiri diatas lereng bawah laut yang curam. Sebagai konsekuensi dari topografi tadi, dan dikombinasikan dengan arus laut yang kuat, lereng sisi barat Gunung Anak Krakatau berubah jauh lebih curam.

Dalam makalahnya, Giachetti mengamati bahwa ketika gunung berapi terus tumbuh menuju barat daya, tanah longsor di sepanjang lereng barat daya tidak dapat dikendalikan. Tanah longsor akan mengarah ke barat daya. Tepatnya ke lokasi kaldera awal Gunung Krakatau meletus 1883. Kondisi ini akan memicu gelombang yang akan merambat ke Selat Sunda, mungkin mempengaruhi pantai Indonesia.

Giachetti juga menulis jika beberapa percobaan dari berbagai lokasi menyimpukan hal serupa. Misalnya, gelombang dengan ketinggian 1,5 meter akan tiba 38 menit ke lokasi terdampak. Di dalam kaldera, pulau-pulau tetangga seperti Rakata atau Sertung akan dilanda gelombang setinggi 15-30 meter dalam waktu kurang dari satu menit.

Malang bagi penduduk sekitar, mereka tidak punya informasi akurat, kapan sebuah gelombang besar tiba saat terjadinya longor. Apalai, longor yang terjadi kerap ditemui pada malam hari. Abu besar menyelimuti kawasan pantai dengan ketinggian 15 kilomter.

“Perlu dicatat bahwa laporan itu ditulis 6 tahun yang lalu. Sejak itu, letusan baru, segala sesuatu yang dijelaskan di sana bahkan benar terjadi,”ucap Giachetti.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *